Sejarah SD

Nama Marsudirini dimeteraikan menandai fusi ( penggabungan ) tiga Sekolah Dasar         ( SD ) yang ada di Kota Solo menjadi sebuah lembaga pendidikan dasar baru yang bernaung di bawah Yayasan Marsudirini yang berkedudukan di Semarang, pada akhir tahun 1977.Namun tradisi pendidikannya sudah dimulai semenjak tahun 1926 dengan lahirnya suatu Sekolah Dasar berbahasa Belanda ( HIS ). Sekolah HIS itu kemudian hari menjadi SD Santa Maria yang difusikan dengan SD Santo Yusup ( berdiri tahun 1930 ) dan SD Santa Clara         ( berdiri tahun 1954 ) menjadi SD Marsudirini Surakarta yang kita kenal sekarang sebagai sekolah swasta terpandang dengan ribuan alumni yang tersebar di berbagai tempat.

Awalnya adalah pergulatan dan pengabdian para Suster Fransiskan ( OSF ) yang dimulai dengan kedatangan Sr.M.Josepha, Sr.M.Xaverio dan Sr.M. Engelina dari Semarang ke Biara Purbayan di Solo pada 25 Mei 1925, kemudian disusul enam suster lagi , yakni Sr.M.Electa, Sr.M.Florida, Sr.M.Hermadine, Sr.M.Aufrida dan Sr.M.Patientia untuk memperkuat pengabdian bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Waktu itu belum banyak sekolah di wilayah yang ada di pinggir Sungai Bengawan Solo ini.  Didukung gereja dan masyarakat , pada 1 Juli 1926 lahirlah karya pertama para Suster Fransiskan , yakni Sebuah Sekolah Dasar berbahasa Belanda ( HIS ) dengan 13 murid pertamanya.

Hanya dalam setahun , jumlah siswa yang belajar di sekolah yang ada disebelah biara itu bertambah menjadi 120 murid . Murid bertambah , kebutuhan ruang pun bertambah. Lima ruang kelas baru segera di bangun , ternyata penambahan itu belum cukup , karena ada kebutuhan lain yang harus diakomodasikan. Maka dibukalah pelayanan pendidikan untuk kalangan Boemi Poetera pada tahun 1930 lewt Sekolah Rakyat ( SR ) 3 tahun yang memakai pengantar Bahasa Jawa. SR tersebut memperoleh ijin resmi dari Gubernur Surakarta tanggal 12 Maret 1931. Melihat perkembangannya yang pesat , sekolah itu memperoleh subsidi yang pertama dari pemerintah pada 17 November 1931.

Ladang yang harus dikerjakan ternyata makin luas. Sekolah Rakyat 3 tahun  saja ternyata tak cukup, hingga didirikanlah SR 6 pada 6 Juli 1933 meski hanya dengan 17 murid pertamanya. Bermunculannya Sekolah Dasar memicu tumbuhnya kebutuhan akan tenaga guru, dan itu terjawab dengan lahirnya Sekolah Guru Rakyat pada tahun 1938 dengan 8 murid pertamanya.

Perjalanan lembaga pendidikan yang dikelola para Suster OSF itu begitu pesat. HIS partikelir yang mereka kelola memperoleh pengakuan dan diberi status “ disamakan “ dengan sekolah – sekolah pemerintah pada tanggal 24 Desember 1935.

Sayang masa subur lembaga pendidikan di Solo terganggu ketika Bala tentara Jepang masuk ke wilayah nusantara . Kekacauan dalam peristiwa yang kita kenal sebagai PD II itu membuat proses Belajar Mengajar tak berjalan lancar. Suster yang mengelola sekolah harus cermat mendengarkan sirene tanda bahaya untuk ditindak lanjuti dengan meliburkan sekolah karena situasinya tidak aman. Keadaan makin tak menentu ketika muncul pengumuman 2 Maret 1942  yang berisi akan ada pembakaran gedung – gedung, penutupan toko dan pasar serta kerusuhan massa  pada 3 Maret 1942.  Pengumuman itu membuat Suster resah, sekolah harus ditutup dan kemudian diperintahkan dibuka lagi tanpa arahan yang jelas . Pil pahit harus ditelan , meski sekolah boleh dibuka kembali pada 11 Juni 1942, namun beberapa bulan kemudian tepatnya pada 17 Oktober 1942 para Suster pengelola sekolah harus masuk kamp, hingga sekolah terpaksa dipindahkan ke Zending School. Upaya perundingan dilakukan , hingga dicapailah kesepakatan Sekolah HIS dipindahkan ke Bruderan , Shackleschool  dipindahkan ke Sekolah Kristen dan Largere Nijverheidschool dipindahkan ke Sekolah Rakyat 6 tahun, sementara gedung sekolah dan biara dipakai Tentara Jepang untuk Bar dan Palang Merah.

Tanggal 5 April 1943 Kegiatan Belajar Mengajar kembali normal, dan sekolah Berbahasa Belanda diganti dengan sekolah memakai pengantar Bahasa Melayu. Kondisi belum menentu , baru membaik setidaknya mulai 3 September 1945 ketika ada pernyataan sekolah – sekolah susteran akan dikembalikan seperti semula. Perpindahan tempat belajar dari “ lokasi pengungsian “ ke gedung milik sendiri terjadi pada tanggal 17 September 1945.

Di era Pemerintahan Republik Indonesia, keadaan sekolah – sekolah yang ada di bawah pengelolaan susteran secara umum berjalan baik , meski tak bisa lepas dari kondisi  social politik, setidaknya sampai tahun 1949 , kondisi baru benar – benar tenang hingga tahun 1950. Gedung – gedung sekolah mulai diperbaiki . Karya baru pun kembali ketika Sekolah Taman Kanak – Kanak ( TK ) untuk kaum Tionghoa dilengkapi dengan sebuah Sekolah Dasar  Santa Clara namanya. Sementara sekolah yang semula bernama HIS menjadi SD St.Maria  dengan murid – murid dari kaum ningrat , untuk rakyat biasa di himpun di SD St. Yusup.

Perbedaan etnis dan golongan bagi siswa ini tak bertahan lama , pembauran mulai terjadi secara alamiah sampai pada akhir tahun 1977 untuk menghilangkan sisa – sisa perbedaan itulah disepakati untuk menggabungkan 3 sekolah yang ada menjadi SD MARSUDIRINI SURAKARTA